Situs web ini diperuntukan untuk kalangan masyarakat – seniman maupun khalayak luas – yang ingin menggunakan ruang-ruang kesenian di Jakarta sebagai arena ekspresi kreatifnya. Ruang-ruang kesenian di Jakarta bukanlah sekedar faslitas fisik untuk berkesenian, melainkan ruang-ruang bersejarah yang telah memintal narasi yang menjadi bagian dari sejarah kesenian di Jakarta sejak lama. Ruang-ruang ini dikelola oleh Pemda namun muatannya dikuratori oleh Dewan Kesenian Jakarta – kerjasama antara birokrasi dan masyarakat seniman yang telah dirintis oleh Gubernur DKI, Ali Sadikin (menjabat 1966-1977). Ruang publik ini memang milik bersama, dan ditujukan untuk perkembangan kesenian yang bermutu di Jakarta. Untuk itulah, ruang-ruang ini (gedung teater, gedung galeri) dikurasi oleh anggota DKJ yang setiap tiga tahun dipilih oleh lembaga independen Akademi Jakarta.

Untuk menjaga transparansi proses kuratorial, maka situs web ini dicipta. Silahkan dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan dijaga bersama-sama.

Dewan Kesenian Jakarta

KRITERIA KURATORIAL GALERI DAN GEDUNG PERTUNJUKAN DI JAKARTA

Sebagai ibukota negara, Jakarta harus dilihat sebagai representasi kehidupan kesenian di Indonesia. Dengan sejarah panjang — hampir 500 tahun – sebagai salah satu kota kosmopolitan dunia, Jakarta dibentuk oleh berbagai suku bangsa dan budaya-budaya besar dunia.

Fasilitas ruang yang diadakan dan berada di bawah wewenang pemerintah daerah DKI Jakarta — dalam hal ini gedung-gedung pertunjukan, ruang pameran, dan ruang presentasi lainnya yang berkaitan dengan kesenian (film, musik, teater, senirupa, tari, sastra maupun media baru) – adalah milik publik yang terutama bisa diakses seniman/sastrawan maupun komunitas kesenian/sastra manapun dan juga khalayak luas yang berminat untuk berkesenian secara serius (sekolah, universitas, dan lain sebagainya).

Pemda Jakarta diberi mandat untuk mengelola sarana fisik fasilitas kesenian publik di kota ini. Unit Pelaksana (UP) PKJ-TIM mengelola ?? ruang kesenian publik, antara lain fasilitas di lingkungan Taman Ismail Marzuki (Gedung Teater Jakarta, Gedung Graha Bhakti Budaya, Teater Kecil; Ruang Pamer Galeri Cipta 2 dan 3), Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Gedung Wayang Orang Bharata dan Gedung Drama Sunda Miss Tjitjih.

Kaitan antara fasilitas gedung dan produksi kesenian (film, musik, teater, senirupa, tari, sastra maupun media baru) menjadi berarti sebagai produksi budaya di Jakarta untuk tiga hal:

  • pertama, menghasilkan pendidikan publik kesenian dan sastra;
  • kedua, menghasilkan wacana kesenian dan sastra. Kedua hal ini merupakan mata-rantai untuk proses-proses kualifikasi kehidupan publik maupun kerja budaya di Jakarta; produksi arsip, pengetahuan dan lembaga pembacaan publik melalui kesenian; dan pelembagaan imajinasi identitas kota;
  • ketiga, terjalinnya hubungan antar seniman/sastrawan maupun komunitas seni/sastra untuk kemungkinan melakukan kerja sama, saling mengapresiasi, kolaborasi maupun terbentuknya laboratorium seni/sastra untuk kepentingan dan kebaikan bersama.

Berdasarkan latar belakang dan tujuan di atas, sistem dan mekanisme kuratorial dibutuhkan untuk siapa pun yang akan menggunakan fasilitas gedung kesenian di Jakarta yang berada di bawah UP. Fungsi kuratorial ini dijalankan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui komite-komite terkait dengan masing-masing jenis kesenian yang akan menggunakan fasilitas gedung. Untuk sejarah dan profil DKJ, sila klik di sini.